Pendapat
tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena mereka berpegang kepada
teks ayat Al-Quran, serta sekian banyak teks hadis yang menunjukkan
bahwa Lailat Al-Qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan
Rasululllah Saw. Menganjurkan umatnya untuk mempersiapkan jiwa
menyambut malam mulia itu, secara khusus pada malam-malam ganjil
setelah berlalu dua puluh Ramadhan.
.......................
Demikian sabda Nabi Saw.
Memang
turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu terjadi pada malam
Lailat Al-Qadar, tetapi itu bukan berarti bahwa ketika itu saja
malam mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwa kemuliaannya bukan hanya
disebabkan karena Al-Quran ketika itu turun, tetapi karena adanya
faktor intern pada malam itu sendiri.
Pendapat
di atas dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk kata kerja mudhari'
(present tense) oleh ayat 4 surat Al-Qadr yang mengandung arti
kesinambungan, atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa
datang.
Nah, apakah bila Lailat Al-Qadar hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya itu?
Tidak
sedikit umat Islam yang menduganya demikian. Namun dugaan itu
menurut hemat penulis keliru, karena hal itu dapat berarti bahwa yang
memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga baik untuk menyambutnya
maupun tidak. Di sisi 1ain berarti bahwa kehadirannya ditandai
oleh hal-hal yang bersifat fisik-material, sedangkan
riwayat-riwayat demikian, tidak dapat dipertanggungjawabkan
kesahihannya.
Seandainya,
sekali lagi seandainya, ada tanda-tanda fisik material, maka itu
pun takkan ditemui oleh orang-orang yang tidak mempersiapkan
diri dan menyucikan jiwa guna menyambutnya. Air dan minyak tidak
mungkin akan menyatu dan bertemu. Kebaikan dan kemuliaan yang
dihadirkan oleh Lailat Al-Qadar tidak mungkin akan diraih kecuali
oleh orang-orang tertentu saja. Tamu agung yang berkunjung ke satu
tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun
setiap orang di sana mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat
rindu atas kedatangan kekasih, namun ternyata sang kekasih tidak
sudi mampir menemuinya?
Demikian
juga dengan Lailat Al-Qadar. Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi
bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa, dan
itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh
malam terakhir bulan Ramadhan. Karena, ketika itu, diharapkan jiwa
manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai
satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia
itu berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya Rasul Saw.
menganjurkan sekaligus mempraktekkan i'tikaf (berdiam diri dan merenung
di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Apabila
jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan Lailat
Al-Qadar datang menemui seseorang, ketika itu, malam kehadirannya
menjadi saat qadar dalam arti, saat menentukan bagi perjalanan
sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saat itu, bagi yang
bersangkutan adalah saat titik tolak guna meraih kemuliaan dan
kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dan sejak saat itu,
malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju
kebaikan sampai terbitnya fajar kehidupannya yang baru kelak di
hari kemudian. (Perhatikan kembali makna-makna Al-Qadar yang
dikemukakan di atas!).
Syaikh
Muhammad 'Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang
kehadiran malaikat dalam diri manusia. 'Abduh memberi ilustrasi
berikut:
Setiap
orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, baik
dan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antar keduanya, seakan
apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan ke satu
sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang itu menolak, atau yang
ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, sampai akhirnya sidang
memutuskan sesuatu.
Yang
membisikkan kebaikan adalah malaikat, sedang yang membisikkan
keburukan adalah setan atau paling tidak, kata 'Abduh, penyebab
adanya bisikan tersebut adalah malaikat atau setan. Turunnya malaikat
pada malam Lailatul Al-Qadar menemui orang yang mempersiapkan diri
menyambutnya, menjadikan yang bersangkutan akan selalu disertai
oleh malaikat. Sehingga jiwanya selalu terdorong untuk melakukan
kebaikan-kebaikan, dan dia sendiri akan selalu merasakan salam (rasa
aman dan damai) yang tak terbatas sampai fajar malam Lailat Al-Qadar,
tapi sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian
kelak.
Di
atas telah di kemukakan bahwa Nabi Saw. menganjurkan sambil
mengamalkan i'tikaf di masjid dalam rangka perenungan dan penyucian
jiwa. Masjid adalah tempat suci. Segala aktivitas kebajikan
bermula di masjid. Di masjid pula seseorang diharapkan merenung
tentang diri dan masyarakatnya, serta dapat menghindar dari hiruk
pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan
pengetahuan dan pengkayaan iman. Itu sebabnya ketika melaksanakan
i'tikaf, dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan Al-Quran,
atau bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa.
Malam
Qadar yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika
beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan
masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah
Ar-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga
terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan
perjalanan hidup umat manusia. Karena itu pula beliau mengajarkan
kepada umatnya, dalam rangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadar itu,
antara 1ain adalah melakukan i'tikaf.
Walaupun
i'tikaf dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu berapa lama saja
--bahkan dalam pandangan Imam Syafi'i, walau sesaat selama dibarengi
oleh niat yang suci-- namun Nabi Saw. selalu melakukannya pada sepuluh
hari dan malam terakhir bulan puasa. Di sanalah beliau bertadarus
dan merenung sambil berdoa.
Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya adalah:
Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami dan siksa neraka (QS Al-Baqarah [2]: 201).
Doa
ini bukan sekadar berarti permohonan untuk memperoleh kebajikan
dunia dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebih lagi bertujuan untuk
memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan dimaksud, karena
doa mengandung arti permohonan yang disertai usaha. Permohonan itu
juga berarti upaya untuk menjadikan kebajikan dan kebahagiaan
yang diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas
dampaknya di dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.
Adapun
menyangkut tanda alamiah, maka Al-Quran tidak menyinggungnya.
Ada beberapa hadis mengingatkan hal tersebut, tetapi hadis tersebut
tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakar hadis yang dikenal melakukan
penyaringan yang cukup ketat terhadap hadis Nabi Saw.
Muslim, Abu Daud, dan Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka'ab, sebagai berikut,
Tanda kehadiran Lailat Al-Qadr adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar.
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan,
Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula panas ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar