Rabu, 09 Mei 2012

Rahasia Otak Manusia Jawa

Pasti anda akan mengernyitkan dahi ketika membaca judulnya. Apalagi jika anda menyempatkan untuk membaca synopsis yang terdapat pada bagian belakang buku, dijamin anda akan kepincut untuk membeli buku ini. Pertanyaan yang mungkin sempat lewat di pikiran kita “ada apa dengan manusia Jawa? Apa keistimewaannya? Mengapa mereka dispesialkan oleh penulis? Apakah karena pusat pemerintahan Indonesia ada di Jawa? Apakah karena mereka selalu menguasai panggung politik? Terlepas dari berbagai alasan tersebut, sepertinya memang Judul itulah yang berusaha dijual oleh Penulis untuk menimbulkan curiosity dari para pembacanya.






Dalam buku ini, Tradisi masyarakat Jawa digambarkan sebagai sebuah warisan leluhur yang memiliki citarasa tinggi, dari cara makan, pola hidup dan berpikir, sampai tradisi wetonan, tumpengan dan jajanan pasar yang biasanya menghiasi acara adat di Jawa, yang berfaedah tidak hanya pada diri seseorang secara fisik, namun juga non fisik. Bagi anda yang pernah tinggal di pulau Jawa, tentu acara-acara ritual tersebut tidak asing lagi. Tentunya kajian sosial budaya tidak akan memberikan makanan yang cukup bagi otak pembaca, apalagi jika pembacanya adalah orang Jawa sendiri, Namun membahas sebuah pola kehidupan (life style) dari tinjauan ilmu kedokteran modern, tentu akan menimbulkan keasyikan tersendiri. Dan, kajian itulah yang berusaha disajikan oleh Arman YS, dalam bukunya “Rahasia Otak Manusia Jawa, sebuah tinjauan ilmu kedokteran modern”.

Jawa, sebagaimana suku-suku lain di Indonesia, kaya dengan tradisi dan adat istiadat yang menghiasi kehidupan seharinya-harinya. Mulai cara berpakaian, cara makan, cara berjalan, cara bicara, penggunaan tingkatan bahasa, cara bersalaman, bahkan cara meludahpun dimasukkan dalam tradisi mereka, dalam artian ada aturan-aturan tidak tertulis yang memberikan rambu-rambu. Nah, Berbagai tradisi Jawa tersebut, menurut Arman, mengerucut pada sebuah bentuk life style yang dapat menghindarkan diri dari penyakit stroke, darah tinggi, dan jantung. Beberapa bab dalam buku ini menyebutkan secara berulang-ulang bahwa gaya hidup manusia Jawa yang nerimo ing pandum (menerima apa adanya), sumeleh (ikhlas dengan pemberian Tuhan), tepa selira, andap ashar, dan semisalnya secara tidak langsung membentuk otak orang Jawa lebih tahan terhadap serangan stroke. Lebih jauh lagi, life style orang Jawa tersebut dimasukkan penulis sebagai salah satu bentuk terapi paham CBT (Cognitive Behavior Therapy), yakni bagaimana berpikir selogis mungkin, setenang mungkin dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. CBT berguna untuk mencegah stress, mencegah stroke dan mencegah depresi pasca stroke.

Tradisi lain yang juga bermanfaat mencegah stress dan stroke adalah berbagi rasa. Dalam praktiknya, orang Jawa terbiasa suka menyenangkan orang lain, dan tidak sanggup melukai perasaan orang lain. Seseorang yang sedang berbahagia selalu mengadakan selamatan dengan mengundang tetangga dan sanak keluarga, atau juga menghantarkan makanan atau hadiah kepada orang lain sebagai bentuk syukur dan agar orang lain ikut juga merasakan kebahagiaannya. Biasanya mereka tidak berharap untuk mendapat timbal balik dari apa yang telah mereka lakukan dan berikan kepada orang lain. Orang Jawa sangat meyakini bahwa kebaikan yang telah dilakukannya pasti akan mendapat balasan dari Sang Pencipta Alam, dan mereka tidak ambil pusing kapan balasan dari Tuhan tersebut akan turun.

Salah satu yang menarik dari buku ini adalah pendapat penulisnya yang mengatakan bahwa huruf Jawa (Ha Na Ca Ra Ka) memiliki nilai seni yang sangat tinggi baik dari sisi spasial (ruang) maupun dari sisi dekoratif. Huruf Jawa menurut Arman juga dapat digunakan sebagai terapi pengidap stroke. Tidak dijelaskan dalam buku ini apakah pendapatnya tersebut berdasarkan penelitian ilmiah (sepertinya dari pengalaman), namun penulis berkali-kali menggarisbawahi bahwa huruf Jawa mampu mengaktifkan otak kanan dan otak kiri secara bersamaan.

Huruf Jawa mempunyai tingkat kesulitan yang merupakan cerminan dari fungsi masing-masing bagian otak; pre frontal (otak depan bawah), Ganglia Basalis (Otak tengah), dan serebelum (otak kecil). Selain itu efek perangsangan terhadap otak kanan sangat kuat karena membuat huruf Jawa bukan sekedar gerakan tanpa arah, namun bak seseorang yang sedang membatik, diperlukan curahan perasaan seni yang tinggi. (hal. 152)
Namun lagi-lagi pendapat tersebut tidak dikuatkan dengan data penelitian yang sistematis dan akurat dengan mengacu pada menggunakan metodologi tertentu. Kesimpulan-kesimpulan yang diambil oleh Penulis kebanyakan dihasilkan berdasarkan hipotesanya saja, tidak merujuk pada hasil penelitian lain atau merujuk pada referensi tertentu. 

Seringkali kesimpulan yang disajikan penulis terkesan dipaksakan. Sesuatu yang mungkin tidak ada hubungannya, dicoba untuk dihubung-hubungkan, istilah Jawanya Othak athik Gathuk (kesimpulan yang asal-asalan). Misalnya pada halaman 16 dia menyebukan bahwa manusia Jawa terlahir sebagai manusia dengan daya cipta yang luar biasa. Penulis menguatkan pernyataannya tersebut dengan menyebutkan keberadaan Borobudur, prambanan, struktur dan tarian, keris, dan hal-hal yang berbau Jawa lainnya sebagai buktinya. Sayangnya, pernyataan-pernyataan tersebut tidak didukung dengan variable-variabel lain sebagai penguat.

Kelebihan buku ini terletak pada penggunaan kata-kata kedokteran modern, yang oleh sebagian orang awam seperti saya, menjadi menarik. Banyak istilah baru yang saya dapatkan dari buku ini, meskipun menurut saya pribadi buku ini tidak dapat dijadikan referensi. Buku dengan ketebalan 199 halaman ini dikemas dalam bentuk fisik yang menarik, dan layaknya buku-buku yang banyak beredar saat ini, selalu dibarengi dengan testimoni yang sedikit bombastis untuk menarik minat pembaca.

Kesimpulannya, Jenis buku ini bukan fiksi, tapi bukan juga ilmiah. Bagi anda yang ingin menambah pengetahuan tentang budaya Jawa, anda tidak saya sarankan untuk membaca buku ini, apalagi jika ingin menjadikannya referensi. Namun bagi anda yang ingin menghabiskan waktu menunggu dengan membaca, seperti motto kota Jogja “Menunggu adalah Membaca”, maka tidak ada salahnya jika buku ini masukkan dalam koleksi rak lemari anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar