Dalam buku ini, Tradisi masyarakat Jawa
digambarkan sebagai sebuah warisan leluhur yang memiliki citarasa
tinggi, dari cara makan, pola hidup dan berpikir, sampai tradisi
wetonan, tumpengan dan jajanan pasar yang biasanya menghiasi acara adat
di Jawa, yang berfaedah tidak hanya pada diri seseorang secara fisik,
namun juga non fisik. Bagi anda yang pernah tinggal di pulau Jawa, tentu
acara-acara ritual tersebut tidak asing lagi. Tentunya kajian sosial
budaya tidak akan memberikan makanan yang cukup bagi otak pembaca,
apalagi jika pembacanya adalah orang Jawa sendiri, Namun membahas sebuah
pola kehidupan (life style) dari tinjauan ilmu kedokteran
modern, tentu akan menimbulkan keasyikan tersendiri. Dan, kajian itulah
yang berusaha disajikan oleh Arman YS, dalam bukunya “Rahasia Otak
Manusia Jawa, sebuah tinjauan ilmu kedokteran modern”.
Jawa, sebagaimana suku-suku lain di
Indonesia, kaya dengan tradisi dan adat istiadat yang menghiasi
kehidupan seharinya-harinya. Mulai cara berpakaian, cara makan, cara
berjalan, cara bicara, penggunaan tingkatan bahasa, cara bersalaman,
bahkan cara meludahpun dimasukkan dalam tradisi mereka, dalam artian ada
aturan-aturan tidak tertulis yang memberikan rambu-rambu. Nah, Berbagai
tradisi Jawa tersebut, menurut Arman, mengerucut pada sebuah bentuk
life style yang dapat menghindarkan diri dari penyakit stroke, darah
tinggi, dan jantung. Beberapa bab dalam buku ini menyebutkan secara
berulang-ulang bahwa gaya hidup manusia Jawa yang nerimo ing pandum
(menerima apa adanya), sumeleh (ikhlas dengan pemberian Tuhan), tepa
selira, andap ashar, dan semisalnya secara tidak langsung membentuk otak
orang Jawa lebih tahan terhadap serangan stroke. Lebih jauh lagi, life
style orang Jawa tersebut dimasukkan penulis sebagai salah satu bentuk
terapi paham CBT (Cognitive Behavior Therapy), yakni
bagaimana berpikir selogis mungkin, setenang mungkin dalam menghadapi
dan menyelesaikan masalah. CBT berguna untuk mencegah stress, mencegah
stroke dan mencegah depresi pasca stroke.
Tradisi lain yang juga bermanfaat
mencegah stress dan stroke adalah berbagi rasa. Dalam praktiknya, orang
Jawa terbiasa suka menyenangkan orang lain, dan tidak sanggup melukai
perasaan orang lain. Seseorang yang sedang berbahagia selalu mengadakan
selamatan dengan mengundang tetangga dan sanak keluarga, atau juga
menghantarkan makanan atau hadiah kepada orang lain sebagai bentuk
syukur dan agar orang lain ikut juga merasakan kebahagiaannya. Biasanya
mereka tidak berharap untuk mendapat timbal balik dari apa yang telah
mereka lakukan dan berikan kepada orang lain. Orang Jawa sangat meyakini
bahwa kebaikan yang telah dilakukannya pasti akan mendapat balasan dari
Sang Pencipta Alam, dan mereka tidak ambil pusing kapan balasan dari
Tuhan tersebut akan turun.
Salah satu yang menarik dari buku ini
adalah pendapat penulisnya yang mengatakan bahwa huruf Jawa (Ha Na Ca Ra
Ka) memiliki nilai seni yang sangat tinggi baik dari sisi spasial
(ruang) maupun dari sisi dekoratif. Huruf Jawa menurut Arman juga dapat
digunakan sebagai terapi pengidap stroke. Tidak dijelaskan dalam buku
ini apakah pendapatnya tersebut berdasarkan penelitian ilmiah
(sepertinya dari pengalaman), namun penulis berkali-kali menggarisbawahi
bahwa huruf Jawa mampu mengaktifkan otak kanan dan otak kiri secara
bersamaan.
Namun lagi-lagi pendapat tersebut tidak dikuatkan dengan data penelitian
yang sistematis dan akurat dengan mengacu pada menggunakan metodologi
tertentu. Kesimpulan-kesimpulan yang diambil oleh Penulis kebanyakan
dihasilkan berdasarkan hipotesanya saja, tidak merujuk pada hasil
penelitian lain atau merujuk pada referensi tertentu.
Seringkali
kesimpulan yang disajikan penulis terkesan dipaksakan. Sesuatu yang
mungkin tidak ada hubungannya, dicoba untuk dihubung-hubungkan, istilah
Jawanya Othak athik Gathuk (kesimpulan yang asal-asalan).
Misalnya pada halaman 16 dia menyebukan bahwa manusia Jawa terlahir
sebagai manusia dengan daya cipta yang luar biasa. Penulis menguatkan
pernyataannya tersebut dengan menyebutkan keberadaan Borobudur,
prambanan, struktur dan tarian, keris, dan hal-hal yang berbau Jawa
lainnya sebagai buktinya. Sayangnya, pernyataan-pernyataan tersebut
tidak didukung dengan variable-variabel lain sebagai penguat.
Kelebihan buku ini terletak pada
penggunaan kata-kata kedokteran modern, yang oleh sebagian orang awam
seperti saya, menjadi menarik. Banyak istilah baru yang saya dapatkan
dari buku ini, meskipun menurut saya pribadi buku ini tidak dapat
dijadikan referensi. Buku dengan ketebalan 199 halaman ini dikemas dalam
bentuk fisik yang menarik, dan layaknya buku-buku yang banyak beredar
saat ini, selalu dibarengi dengan testimoni yang sedikit bombastis untuk
menarik minat pembaca.
Kesimpulannya, Jenis buku ini bukan
fiksi, tapi bukan juga ilmiah. Bagi anda yang ingin menambah pengetahuan
tentang budaya Jawa, anda tidak saya sarankan untuk membaca buku ini,
apalagi jika ingin menjadikannya referensi. Namun bagi anda yang ingin
menghabiskan waktu menunggu dengan membaca, seperti motto kota Jogja
“Menunggu adalah Membaca”, maka tidak ada salahnya jika buku ini
masukkan dalam koleksi rak lemari anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar