Dr. Syekh Tajuddin Hamid Hilali mantan
mufti Australia berkunjung ke kota suci Qom. Dalam pertemuan dengan
para ulama, ia menegaskan, "Makkah adalah Kiblat untuk ibadah muslimin.
Qom juga adalah Kiblat ilmu pengetahuan muslimin. Berjalan di atas tanah
bumi ini dapat mendekatkan diri kepada Allah."Syekh Tajuddin mengisahkan bahwa di Mesir, pada masa-masa sebelum ini, selalu mengajarkan ilmu pengetahuan Islam, irfan, dan khususnya fiqih Ahlul Bait as. "Akan tetapi, lantaran kandungan fiqih Syiah yang notabene menentang segala bentuk kezaliman, sebagian gerakan politik menyebabkan fiqih ini dilarang diajarkan di Mesir.
Sekarang ini, sebagian pelajaran diajarkan di Al-Azhar yang tidak seratus persen tidak Islami. Akan tetapi, kami sedang berusaha untuk memperkenalkan dan mengajarkan Islam murni dalam seluruh dimensi: politik, ekonomi, dan militer kepada para mahasiswa," tukasnya.
Anggota tinggi Gerakan Ikhwanul
Muslimin ini menekankan bahwa revolusi Mesir banyak belajar dari
Revolusi Islam Iran. Ia menegaskan, "Pemikiran para ulama Syiah sudah
ada di Mesir dari sejak dahulu kala. Buku-buku Syiah seperi Tafsir
Al-Mizan, karya Sayid Syarafuddin Musawi, dan Allamah Askari diajarkan
di sana."
Syeikh Tajuddin lebih lanjut
menguraikan kekuatan dan peran ilmu pengetahuan Ahlul Bait as dan
karya-karya Syiah. Menurutnya, ilmu pengetahuan dan pemikiran murni
selalu dihalangi tembok di sepanjang sejarah; dari sejak masa kekuasaan
Bani Umaiyah, Utsmaniyah, dan hingga masa Husni Mubarak.
"Pemikiran Ahlul Bait as adalah
sebuah kultur yang selalu melawan segala bentuk kezaliman dan
penindasan. Budaya muqawamah termanifestasi dalam ajaran ini dengan
baik. Budaya dan pemikiran ini di sepanjang sejarah senantiasa menjadi
ancaman serius bagi negara-negara dan penguasa zalim.
Untuk itu, budaya dan pemikiran selalu dihalang-halangi. Usaha sebegitu besar sehingga tindak kriminal paling besar pada masa Dinasti Bani Umaiyah adalah mencintai Ahlul Bait as. Hukuman bagi kriminal ini malah hukum gantung," ujar anggota Dewan Koordinasi Bangsa Arab di Mesir ini.
Untuk itu, budaya dan pemikiran selalu dihalang-halangi. Usaha sebegitu besar sehingga tindak kriminal paling besar pada masa Dinasti Bani Umaiyah adalah mencintai Ahlul Bait as. Hukuman bagi kriminal ini malah hukum gantung," ujar anggota Dewan Koordinasi Bangsa Arab di Mesir ini.
Menurut penegasan Syeikh
Tajuddin, para pengikut pemikiran Ahlul Bait as di Mesir sebelum ini
selalu diisukan sebagai pihak oposisi. "Di Mesir pernah disahkan sebuah
undang-undang. Undang-undang ini menegaskan bahwa setiap pesawat Israel
atau Amerika bisa memasuki Mesir dengan leluasa. Akan tetapi, Iran tidak
pernah diperbolehkan melakukan hal ini. Orang—orang Yahudi bisa
memperoleh visa dengan mudah. Sementara itu, para ulama dan rakyat Iran
tidak diperbolehkan memohon visa," ujarnya menyesalkan.
"Sekalipun seluruh usaha ini
dilakukan, pemikiran Syiah, Islam, dan khususnya Ahlul Bait as masih
bisa ditemukan di Mesir. Sekalipun banyak usaha yang telah dilakukan
untuk memisahkan Syiah dan Ahli Sunah, tetapi banyak juga usaha-usaha
yang muncul untuk menghubungkan antara kedua mazhab ini di Mesir. Salah
satu usaha itu adalah penyebaran buku-buku ulama Syiah dalam jumlah yang
sangat besar," lanjutnya.
Di bagian lain uraiannya, Syeikh
Tajuddin menguraikan kebangkitan Islami yang sedang semarak di kawasan
Timur Tengah. "Dalam hal ini, ada dua ungkapan yang sangat menarik:
Musim Semi Arab dan gempa. Ketika musim semi tiba, angin musim semi pun
datang bertiup dengan menjanjikan berita gembira. Revolusi-revolusi ini
juga demikian. Semua revolusi ini menjanjikan kemenangan Islam,"
ungkapnya.
"Sumber angin musim semi berasal
dari Revolusi Islam Iran dan sedikit demi sedikit akan merengsek ke
seluruh dunia. Untuk itu, slogan-slogan yang didengungkan oleh para
revolusioner kita adalah sama dengan slogan-slogan yang pernah
dilantunkan oleh rakyat Iran," ujarnya.
Pada kelanjutan uraiannya,
Syeikh Tajuddin menguraikan jati diri Ikhwanul Muslimin. "Gerakan Islami
ini didirikan oleh Imam Syahid Hasan Banna. Setelah itu, banyak
pembesar yang terdidik atau bergabung dengan gerakan Islami ini. Insya
Allah, tidak lama lagi, Amerika dan negara-negara penjajah yang lain
akan menerima tamparan final dari kelompok ini. Ketika kelompok ini
menang di masa mendatang, tembok pemisah antara Gaza dan Mesir akan
dibongkar," tegasnya.
Menurut mantan mufti umum
Australia ini, salah satu prinsip Ikhwanul Muslimin adalah persatuan
Islam. Kelompok Ikhwanul Muslimin sekarang ini mampu merebut 80 kursi di
parlemen. Kursi seleblihnya diduduki oleh kelompok-kelompok yang lain,
khususnya para pengikut Salafi.
"Salafi dan Wahabiah di Mesir
sangat berbeda. Wahabiah bergerak untuk memecah belah dan mengkafirkan
umat. Sementara, Salafi bergerak di arena pemikiran dan pengetahuan,"
ungkapnya.
Ia menambahkan, "Jika Salaf
berarti kembali kepada ajaran tokoh Salafi yang salih, maka kita semua
adalah Salafi. Rasulullah saw datang untuk memberikan berita gembira,
dan Salaf salih selalu membuka dada mereka untuk menerima ajaran agama."
Syeikh Tajuddin mengklasifikasikan Salafiah di Mesir dalam tiga golongan:
Golongan
pertama, Salafi Wahabi takfiri yang menempati 5 persen dari seluruh
Salafiah Mesir. Kelompok ini termasuk dalam garis teroris dan tidak ada
kebaikan sedikit pun yang bisa diharapkan dari mereka. "Mereka mengaku
sebagai satu-satunya pemerintahan Islam, sedangkan kelompok lain adalah
kafir. Dalam pandangan mereka, Al-Azhar, sufi, dan Syiah adalah kelompok
penentang mereka," ujarnya.
Golongan kedua, Salafi modern
yang menempati 80 persen seluruh Salafiah di Mesir. "Mereka merubah
takfir (pengkafiran) menjadi tafkir (pemikiran," tegasnya.
Golongan ketiga, Salafi jihadi.
"Salafi ini adalah anak Ikhwanul Muslimin yang menempati 10 persen
Salafiah di Mesir," ujar imam salat jamaah Masjid Imam Ali Sydney ini.
Syeikh Tajuddin menegaskan bahwa
musuh utama revolusi Mesir adalah Amerika dan Israel. "Negara-negara
imperialis telah berusaha keras untuk merampas kebangkitan Islami yang
telah meletus ini. Akan tetapi, sesuai dengan janji Al-Quran, kemenangan
final akan berada di tangan muslimin. Masa depan Mesir berada di tangan
kelompok-kelompok Islamis dan para pemuda revolusioner," tandasnya.
Perlu diketahui, Syeikh Dr.
Tajuddin Hamid Hilali adalah salah seorang ulama Al-Azhar dan anggota
Dewan Tinggi Ikhwanul Muslimin. Lantaran aktifitas politik, ia diusir
oleh Mubarak ke Libya dan selanjutnya diasingkan ke Australia. Ia
akhirnya menjawab sebagai mufti umum dan imam salat jamaah Masjid Imam
Ali as di Sydney selama 30 tahun.
Tidak lama setelah itu, ia diangkat menjadi ketua Dewan Fatwa Australia. Sekarang, ia menjadi anggota Dewan Koordinasi Arab di Mesir dan kepala Komite Kebangkitan Islami.
Tidak lama setelah itu, ia diangkat menjadi ketua Dewan Fatwa Australia. Sekarang, ia menjadi anggota Dewan Koordinasi Arab di Mesir dan kepala Komite Kebangkitan Islami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar