Jumat, 04 Mei 2012

Sejarah Sniper

Kalau mau diartikan sebagai kemampuan menembak tepat, sniper mewakili sosok dengan kemampuan yang awalnya dimanfaatkan untuk berburu. Di sisi lain, kemampuan menembak tepat ini juga dikenal dalam olahraga maupun militer. Kenyataan kemudian menunjukkan, kemampuan menembak jitu dari jarak jauh sangat mendukung untuk mengeliminasi musuh.
 
Istilah sniper yang lebih mengacu pada penembak jitu awalnya digunakan oleh sejumlah pewira pasukan Inggris yang bertugas ke India pada akhir abad 18. Dalam surat ke keluarga mereka di kampung halaman, perwira-perwira ini biasa menggambarkan beratnya aksi menembak yang mereka lalui dengan istilah “going out sniping”. Snipe sebetulnya adalah burung kecil yang biasa dijadikan sasaran olahraga berburu. 
 
Burung ini memiliki bulu hitam berbaur coklat dengan gaya terbang yang tak terduga hingga sulit untuk bisa menembak burung ini dengan tepat. Tak hanya dibutuhkan senapan tepat untuk menjatuhkannya., tetapi juga dibutuhkan kemampuan khusus. Alhasil keberhasilan menembak burung ini dengan tepat dipandang sebagai kemampuan di atas rata-rata. Tak heran jika kemudian digunakan istilah “snipe shooting” yang kemudian disederhanakan menjadi “sniping” untuk menggambarkan keterampilan menembak jitu.
 
Sebelum dikenal istilah sniper, seradu yang memiliki kemampuan menembak dikalangna militer disebut sharpshooter atau marksmen. Selain itu, keberadaan dan peran pentingnya sebagai sniper belum diperhatikan secara khusus . Di sisi lain, bersamaan dengan kemunculan musket, pendahulu senapan laras panjang, mulai muncul juga penembak jarak jauh. Walaupun musket belum memiliki tingkat akurasi yang cukup, musket memiliki jangkauan hingga 90 meter. Awalnya pun musket hanya digunakan untuk olahraga. Salah satu kelompok  kegiatan olahraga menembak tertua adalah di Luzern, Swiss, dengan catatan tahun 1466.
 
Senjata yang digunakan untuk olahraga akhirnya digunakan untuk bertempur. Seperti yang dilakukan oleh sebagian orang Inggris saat Perang Sipil Inggris ( 1642-1648 ), untuk menjatuhkan perwira maupun NCO ( perwira tidak resmi ).
 
Penggunaan senjata laras panjang lama kelamaan pun makin biasa digunakan dikalangan militer, terutama di sejumlah medan pertempuran awal di Eropa. Bahkan hingga dibentuk unit khusus dan ditugaskan untuk menjatuhkan perwira musuh. Akan tetapi, saat itu kompi yang ada jumlahnya masih sangat kecil hingga belum cukup berkontribusi dalam mengubah keseluruhan perang.
 
Pada tahun 1624, pemikiran maju King Gustavus Adolphus II dari Swedia memperkenalkan musket ringan dan mempersenjatai dua pertiga pasukannya dengan senapan ini. Penggunaan senapan sebagai senjata utama kemungkinan karena Adolphus terinspirasi Jerman selama Thirty Years War ( 1618-1635 ). Saat itu Jerman mengerahkan sharpshooters yang dipersenjatai senapan, sekaligus mengerahkan pembunuh bayaran dengan senapan yang sama. Dalam pertempuran Dirschen (1647 ), sorang sharpshooters Polandia meninggalkan cerita setelah menembakkan peluru yang mengenai leher Adolphus hingga membuat sang raja menderita sepanjang sisa hidupnya.
 
 
 
 
 
Semasa Perang Kemerdekaan Amerika, muncul seorang pionir imigran Wels, Daniel Morgan ( 1736-1802 0, yang membentuk satu unit sharpshooters pada 1755. unit sharpshooters yang dibentuk sebelum pengepunagn Boston tersebut dikenal sebagai Morgan’s Sharpshooters. Dalam pertempuran di Saratoga, Oktober 1777, Morgan yang sudah menjadi Jenderal di 11th Virginia Regiment, menugaskan salah seorang penembak jitunya untuk melakukan aksi sniper pertama tercatat didalam sejarah . Kabarnya, Murphy memanjat sebuah pohn dan dengan hati-hati membidikkan senapannya pada jarak 275 meter. Ia memicu pelatuk senapan, melepaskan tembakan dan Jenderal Burgoyne dari Inggris pun jatuh dari kudanya dalam keadaan luka parah yang mematikan. Murphy kemudian menembak Sir Frances Clarke, seorang perwira Inggris. Segera setelah itu, moral pasukan Inggris ikut mati bersama kematian pemimpin mereka. Pasukan Inggris akhirnya mundur. Pertempuran Saratoga dianggap sebagai titik balik bagi Perang Kemerdekaan Amerika, dan itu tak terlepas dari aksi seorang ‘sniper”.
 
Aksi sharpshooter di masa lalu ala sniper terus berkembang sepanjang sejarah. Perannya pun makin terperhatikan. Pertempuran Trafalgar pada tahun 1805 juga bisa dikatakan sebagai peristiwa pentinng dalam perkembangan sejarah sniper. Pertempuran ini menandai dua peristiwa penting bagi Inggris berhasil mencatat kemenangan terbesarnya di laut. Di sisi lain, Inggris harus menerima kematian pahlawan terbesarnya di AL. Kematian Admiral Horatio Nelson akibat peluru seorang sharpshooter yang ditembakkan dari jarak sekitar 14 meter.
 
Selama perang saudara Amerika ( Civil War ), istilah ‘sharpshooter’, marksman’ atau ‘skirmisher’  masih digunakan untuk menggambarkan prajurit dengan kemampuan menembak tepat yang dikerahkan secara individual. Sepanjang sejarah, militer menggunakan skirmisher untuk memecah formasi musuh dan mencegah musuh untuk menyerang dengan kekuatan mereka. Secara umum skirmish merupakan pertempuran terbatas, melibatkan pasukan diluar pasukan inti. Penggunaan istilah sniper belum digunakan secara luas di AS hingga setelah Perang Saudara Amerika. Dan kemungkinan semakin luas setelah media menggunakannya semasa bulan-bulan awal Perang Dunia I.
 

 Peran penembak jitu mulai diperhatikan di masa Perang Saudara ( Civil War ). Pasukan Union merupakan yang pertama mengakui potensi kekuatan penembak jitu yang bisa bebas bergerak ke mana saja di area pertempuran. Kemungkinan ini karena pendekatan Hiram Berdan, seorang jutawan penemu dan ahli tembak. Pembentukan unit elite ini ditegaskan dalam sebuah artikael koran tahun 1861. sebagaimana ditegaskan oleh Berdan,si penulis menggaris bawahi “Amerika Riflemen” terbukti superior, terutama dalam memburu pasukan New England dan Barat. Merupakan rancangan Kolnel ) Berdan ) untuk memiliki regu yang dilepas dari detasemen di medan tempur untuk menjalankan tugas, menjatuhkan perwira dan penembak dalam “European Plan”

Resimen pertama Berdan disetujui Secretary of War pada 15 Juni 1861. uniknya, resimen ini menarik sukarelawan dari berbagai daerah utara dan tidak diatur oleh negara bagian. Untuk bisa menjadi bagian dari Berdan’s Sharpshooters, mereka harus lulus tes. Termasuk di antaranya menembak 10 tembakan pada target diameter 25,4 cm dari jarak 183.

Sharpshooters memainkan peranan penting dalam banyak pertempuran selama Perang Saudara Amerika ( 1861- 1865 ). Dalam Pertempuran Gettysburg, Juli 1863, sharpshooters menjadi sangat dikenal dalam menahan pasukan Konfederasi di dataran berbatu yang dikenal sebagai Devil’s Den.

Terlepas dari keberhasilan  para sharpshooters, ada kalanya mereka harus menanggung balasan dari musuh. Seperti Devil’s Den, sharpshooters Konfederasi berhasil ditewaskan oleh tembakan pasukan artileri. Sementara itu, di awal Pertempuran Spotsylvania Court House ( 9 Mei 1864 ), Jenderal Jhon Sedgwick dari Union meremehkan kemampuan barisan skirmisher  Konfederasi saat pasukannya merangsek maju ke arah barisan tersebut. Pada jarak 910 meter, pasukannya mulai mencari perlindungan dari hujan peluru. Demi menggerakan pasukannya untuk maju, Sedgwick berteriak, “Mereka bahkan tidak dapat mengenai seekor gajah dalam jarak sejauh ini !” Menyusul teriakannya tersebut, Sedgwick jatuh dari kudanya dengan lubang peluru di bawah mata kirinya. Dengan jarak sejauh itu, kemungkinan tembakan berasal dari senapan Whitworth.

 Di masa Perang Saudara Amerika, skirmisher diarahkan untuk bereaksi terhadap bunyi terompet, bukan perintah suara langsung. Tidak seperti serdadu biasa di saat itu, saat diperintahkan untuk berhenti, para skirmisher secara otomatis mencari perlindungan atau persembunyian. Bisa di belakang pohon, batu, atau penghalang lain. Bisa juga meniarapkan diri rata dengan tanah. Dengan cara ini, mereka sudah nyaris identik dengan serdadu modern

Peran sniper pun mulai populer sejak Perang Saudara Amerika. Mereka menjadi kekuatan yang menentukan pada pertempuran – pertempuran besar yang berlangsung di berbagai penjuru dunia. Mulai dari PD I, PD II, Perang Korea, Perang Vietnam, hingga konflik di era modern lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar