Kalau
mau diartikan sebagai kemampuan menembak tepat, sniper mewakili sosok
dengan kemampuan yang awalnya dimanfaatkan untuk berburu. Di sisi lain,
kemampuan menembak tepat ini juga dikenal dalam olahraga maupun militer.
Kenyataan kemudian menunjukkan, kemampuan menembak jitu dari jarak jauh
sangat mendukung untuk mengeliminasi musuh.
Istilah
sniper yang lebih mengacu pada penembak jitu awalnya digunakan oleh
sejumlah pewira pasukan Inggris yang bertugas ke India pada akhir abad
18. Dalam surat ke keluarga mereka di kampung halaman, perwira-perwira
ini biasa menggambarkan beratnya aksi menembak yang mereka lalui dengan
istilah “going out sniping”. Snipe sebetulnya adalah burung kecil
yang biasa dijadikan sasaran olahraga berburu.
Burung ini memiliki bulu
hitam berbaur coklat dengan gaya terbang yang tak terduga hingga sulit
untuk bisa menembak burung ini dengan tepat. Tak hanya dibutuhkan
senapan tepat untuk menjatuhkannya., tetapi juga dibutuhkan kemampuan
khusus. Alhasil keberhasilan menembak burung ini dengan tepat dipandang
sebagai kemampuan di atas rata-rata. Tak heran jika kemudian digunakan
istilah “snipe shooting” yang kemudian disederhanakan menjadi “sniping”
untuk menggambarkan keterampilan menembak jitu.
Sebelum dikenal istilah sniper, seradu yang memiliki kemampuan menembak dikalangna militer disebut sharpshooter atau marksmen. Selain
itu, keberadaan dan peran pentingnya sebagai sniper belum diperhatikan
secara khusus . Di sisi lain, bersamaan dengan kemunculan musket,
pendahulu senapan laras panjang, mulai muncul juga penembak jarak jauh.
Walaupun musket belum memiliki tingkat akurasi yang cukup, musket
memiliki jangkauan hingga 90 meter. Awalnya pun musket hanya digunakan
untuk olahraga. Salah satu kelompok kegiatan olahraga menembak tertua
adalah di Luzern, Swiss, dengan catatan tahun 1466.
Senjata
yang digunakan untuk olahraga akhirnya digunakan untuk bertempur.
Seperti yang dilakukan oleh sebagian orang Inggris saat Perang Sipil
Inggris ( 1642-1648 ), untuk menjatuhkan perwira maupun NCO ( perwira
tidak resmi ).
Penggunaan
senjata laras panjang lama kelamaan pun makin biasa digunakan
dikalangan militer, terutama di sejumlah medan pertempuran awal di
Eropa. Bahkan hingga dibentuk unit khusus dan ditugaskan untuk
menjatuhkan perwira musuh. Akan tetapi, saat itu kompi yang ada
jumlahnya masih sangat kecil hingga belum cukup berkontribusi dalam
mengubah keseluruhan perang.
Pada
tahun 1624, pemikiran maju King Gustavus Adolphus II dari Swedia
memperkenalkan musket ringan dan mempersenjatai dua pertiga pasukannya
dengan senapan ini. Penggunaan senapan sebagai senjata utama kemungkinan
karena Adolphus terinspirasi Jerman selama Thirty Years War ( 1618-1635
). Saat itu Jerman mengerahkan sharpshooters yang dipersenjatai
senapan, sekaligus mengerahkan pembunuh bayaran dengan senapan yang
sama. Dalam pertempuran Dirschen (1647 ), sorang sharpshooters Polandia
meninggalkan cerita setelah menembakkan peluru yang mengenai leher
Adolphus hingga membuat sang raja menderita sepanjang sisa hidupnya.
Semasa Perang Kemerdekaan Amerika, muncul seorang pionir imigran Wels, Daniel Morgan ( 1736-1802 0, yang membentuk satu unit sharpshooters pada 1755. unit sharpshooters yang
dibentuk sebelum pengepunagn Boston tersebut dikenal sebagai Morgan’s
Sharpshooters. Dalam pertempuran di Saratoga, Oktober 1777, Morgan yang
sudah menjadi Jenderal di 11th Virginia Regiment, menugaskan
salah seorang penembak jitunya untuk melakukan aksi sniper pertama
tercatat didalam sejarah . Kabarnya, Murphy memanjat sebuah pohn dan
dengan hati-hati membidikkan senapannya pada jarak 275 meter. Ia memicu
pelatuk senapan, melepaskan tembakan dan Jenderal Burgoyne dari Inggris
pun jatuh dari kudanya dalam keadaan luka parah yang mematikan. Murphy
kemudian menembak Sir Frances Clarke, seorang perwira Inggris. Segera
setelah itu, moral pasukan Inggris ikut mati bersama kematian pemimpin
mereka. Pasukan Inggris akhirnya mundur. Pertempuran Saratoga dianggap
sebagai titik balik bagi Perang Kemerdekaan Amerika, dan itu tak
terlepas dari aksi seorang ‘sniper”.
Aksi sharpshooter di
masa lalu ala sniper terus berkembang sepanjang sejarah. Perannya pun
makin terperhatikan. Pertempuran Trafalgar pada tahun 1805 juga bisa
dikatakan sebagai peristiwa pentinng dalam perkembangan sejarah sniper.
Pertempuran ini menandai dua peristiwa penting bagi Inggris berhasil
mencatat kemenangan terbesarnya di laut. Di sisi lain, Inggris harus
menerima kematian pahlawan terbesarnya di AL. Kematian Admiral Horatio
Nelson akibat peluru seorang sharpshooter yang ditembakkan dari jarak sekitar 14 meter.
Selama perang saudara Amerika ( Civil War ), istilah ‘sharpshooter’, ‘marksman’ atau ‘skirmisher’ masih
digunakan untuk menggambarkan prajurit dengan kemampuan menembak tepat
yang dikerahkan secara individual. Sepanjang sejarah, militer
menggunakan skirmisher untuk memecah formasi musuh dan mencegah musuh untuk menyerang dengan kekuatan mereka. Secara umum skirmish merupakan pertempuran terbatas, melibatkan pasukan diluar pasukan inti. Penggunaan istilah sniper belum
digunakan secara luas di AS hingga setelah Perang Saudara Amerika. Dan
kemungkinan semakin luas setelah media menggunakannya semasa bulan-bulan
awal Perang Dunia I.
Peran penembak jitu mulai diperhatikan di masa Perang Saudara ( Civil War ). Pasukan Union merupakan yang pertama mengakui potensi kekuatan penembak jitu yang bisa bebas bergerak ke mana saja di area pertempuran. Kemungkinan ini karena pendekatan Hiram Berdan, seorang jutawan penemu dan ahli tembak. Pembentukan unit elite ini ditegaskan dalam sebuah artikael koran tahun 1861. sebagaimana ditegaskan oleh Berdan,si penulis menggaris bawahi “Amerika Riflemen” terbukti superior, terutama dalam memburu pasukan New England dan Barat. Merupakan rancangan Kolnel ) Berdan ) untuk memiliki regu yang dilepas dari detasemen di medan tempur untuk menjalankan tugas, menjatuhkan perwira dan penembak dalam “European Plan”
Resimen pertama Berdan disetujui Secretary of War pada 15 Juni 1861. uniknya, resimen ini menarik sukarelawan dari berbagai daerah utara dan tidak diatur oleh negara bagian. Untuk bisa menjadi bagian dari Berdan’s Sharpshooters, mereka harus lulus tes. Termasuk di antaranya menembak 10 tembakan pada target diameter 25,4 cm dari jarak 183.
Sharpshooters memainkan peranan penting dalam banyak pertempuran selama Perang Saudara Amerika ( 1861- 1865 ). Dalam Pertempuran Gettysburg, Juli 1863, sharpshooters menjadi sangat dikenal dalam menahan pasukan Konfederasi di dataran berbatu yang dikenal sebagai Devil’s Den.
Terlepas dari keberhasilan para sharpshooters, ada kalanya mereka harus menanggung balasan dari musuh. Seperti Devil’s Den, sharpshooters Konfederasi berhasil ditewaskan oleh tembakan pasukan artileri. Sementara itu, di awal Pertempuran Spotsylvania Court House ( 9 Mei 1864 ), Jenderal Jhon Sedgwick dari Union meremehkan kemampuan barisan skirmisher Konfederasi saat pasukannya merangsek maju ke arah barisan tersebut. Pada jarak 910 meter, pasukannya mulai mencari perlindungan dari hujan peluru. Demi menggerakan pasukannya untuk maju, Sedgwick berteriak, “Mereka bahkan tidak dapat mengenai seekor gajah dalam jarak sejauh ini !” Menyusul teriakannya tersebut, Sedgwick jatuh dari kudanya dengan lubang peluru di bawah mata kirinya. Dengan jarak sejauh itu, kemungkinan tembakan berasal dari senapan Whitworth.
Di masa Perang Saudara Amerika, skirmisher diarahkan untuk bereaksi terhadap bunyi terompet, bukan perintah suara langsung. Tidak seperti serdadu biasa di saat itu, saat diperintahkan untuk berhenti, para skirmisher secara otomatis mencari perlindungan atau persembunyian. Bisa di belakang pohon, batu, atau penghalang lain. Bisa juga meniarapkan diri rata dengan tanah. Dengan cara ini, mereka sudah nyaris identik dengan serdadu modern
Peran
sniper pun mulai populer sejak Perang Saudara Amerika. Mereka menjadi
kekuatan yang menentukan pada pertempuran – pertempuran besar yang
berlangsung di berbagai penjuru dunia. Mulai dari PD I, PD II, Perang
Korea, Perang Vietnam, hingga konflik di era modern lainnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar